Kamis, April 15, 2021

Perempuan dan Kebangkitan Ekonomi di Tengah Pandemi

Cantik Indonesia, Jakarta - Sebuah riset pada akhir 2020 mendapatkan fakta yang mengejutkan bahwa selama pandemi lebih banyak perusahaan-perusahaan besar di dunia memilih untuk...
More

    Latest Posts

    ENIK CHAIRUL UMAH, KEPALA SEKOLAH BERPRESTASI SIDOARJO 2019

    BANGGASIDOARJO.COM – Ketika masih menjadi guru kelas Enik punya cita cita untuk membiasakan membaca pada anak didiknya. Namun keterbatasan sebagai guru kelas ia hanya bisa menerapkan di kelas. Ketika sudah menjadi PLT kepala sekolah ia membawa program habitat untuk senang membaca ini menjadi sebuah program prioritas.

    Pemilik nama lengkap Enik Chairul Umah, sekarang menjabat sebagai Kepala Sekolah SD
    Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Kiprahnya di dunia pendidikan terutama dalam habitat literasi kini sudah mendunia. Dari program yang ia coba terapkan di sekolah kini menjadi program nasional. Disekolahnya kini hampir disemua sudut menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk membaca.

    “Semua tempat pasti ada pojok baca, untuk membentu habitat membaca,” kata alumnus S-2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya.

    Draft tentang habitat membaca dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang ia sampaikan dalam Raker saat itu cukup menarik. Ide untuk GLS itu pun makin menguat ketika Enik lolos dalam seleksi dan menjadi salah satu peserta Teacher Exchange Program Indonesia Korea APCEIU UNESCO Tahun 2015.

    Ia bersama 5 rekannya mewakili Indonesia untuk mengajar selama 3 bulan di negara itu. Nah saat disana Enik jalan jalan ke sebuah mal, di mal itu ia tertarik dengan adanya rak rak buku, ia perhatikan ternyata di beberapa fasilitas umum juga terdapat tak buku.

    “Betapa mereka di sana itu sangat gemar membaca dan di fasilitasi,” kata Juara I Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional ( 2013 ).

    Saat pulang dari mengajar ia juga disuguhi sebuah pemandangan yang membuatnya “mbrebes mili” (meneteskan air mata).

    Saat naik bus, ia melihat hampir semua anak anak yang ada di dalam bus itu membuka buku dan membaca.

    “Saya melihatnya sampai mbrebes Mili, kok bisa ya,” ungkap wanita yang suka masak.

    Setelah ia mencari tahu ternyata semua kegiatan yang ia temui itu ada undang undang yang mengaturnya.

    “Nah seandainya di Indonesia ini ada,” ujar penerima Satyalancana Pendidikan Presiden Republik Indonesia Tahun 2014. Satu lagi yang ia jumpai saat itu ia datang ke sekolah ternyata sangat sepi, dikiranya sekolah sedang libur.

    Ternyata para siswa di sekolah itu sedang asik membaca sehingga suasana sekolah menjadi sepi.

    Apa yang ia peroleh dan dijumpai di Korea itu ia terapkan disekolahnya, dan hasilnya setahun kemudian Enik diundang lagi ke Korea pada Desember 2016. Tapi kali ini ia menjadi penyaji di School Literacy Best Practice dalam forum SSAEM Asia-Pacific Converence APCEIU_ UNESCO Korea.

    Membagikan Pengalaman Lewat Buku

    Upaya Enik untuk menggiatkan budaya literasi disekolah terus dilakukan. Bahkan kerap ia mengikuti pelatihan seputar literasi ini sampai Jakarta.

    “Literasi disekolah ini bisa jalan dan tumbuh bersama anak anak dan semua guru harus bergerak,” kata Dewan Pembina Relawan Membaca Indonesia (REM 15).

    Selain menggerakkan disekolah tempatnya mengajar, wanita kelahiran Malang 12 November 1973 ini juga memberikan pelatihan literasi untuk guru guru di beberapa daerah. Seperti di Ngawi, Madiun, Bojonegoro, Sleman dan Sidoarjo sendiri.

    Dari kegiatan selama ini, ia sudah menerbitkan buku literasi. “Sudah ada 6 buku dari guru guru yang pernah belajar literasi bersama, semuanya tentang bagaimana belajar literasi,” tambahnya.

    Enik sendiri juga menerbitkan sejumlah buku, diantaranya adalah pengalaman tentang
    kegemarannya menulis dan bergiat literasi. Buku itulah yang mengantarkan ia kembali ke negara Korea. “Pengalaman selama bergiat literasi hingga menjadi peserta Teacher Exchange Program Indonesia Korea APCEIU UNESCO Tahun 2015 saya tulis dan jadi buku,” paparnya.

    Buku itu kemudian ia bagikan ke teman temannya hingga ke kementerian pendidikan, dan UNESCO mendengar adanya buku tersebut.

    Dari buku itulah Enik kembali di undang UNESCO untuk membagikan pengalaman dan bagaimana cara menulis hingga menjadi buku.

    Yang menarik ide Enik untuk membuat buku itu menjadi program UNESCO bagi peserta berikutnya. Semua peserta Teacher Exchange Program Indonesia Korea APCEIU UNESCO, salah satu syaratnya adalah diwajibkan untuk membuat buku.

    Global Citizen Agar Mendunia

    Berangkat dari literasi yang mulai berjalan Enik mencoba mengembangkan lebih luas dengan membuat global citizen.

    “Dilingkup sekolah global citizen ini penting sebagai bagian dari literasi,” katanya.

    Secara aplikasi dilapangan siswa siswi disekolah dikenalkan dengan beragam adat istiadat, bahasa, tempat wisata, makanan khas, oleh oleh dan apa saja di disebuah negara.

    Dari global citizen ini ia mengembangkan ke English Environment dimana semua guru di sekolah harus menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari hari.

    Secara bergantian guru guru juga mendapat kursus Bahasa Inggris. “Mendatangkan guru Bahasa Inggris, ada yang belajar ke kampung Inggris di Pare,” tambahnya.

    Penilaian sikap dan ketrampilan menjadi prioritas karena itu anak anak lebih enjoy, karakter dan literasi juga bagus.

    “Karakter dari anak anak tertib menata sepatu sandal. Antri di tempat makan, tanpa komando,” lanjut Enik yang juga Koordinator daerah Sidoarjo literasi bahasa dan Fasilitator daerah literasi numerasi Program inovasi kejasama Australia – Indonesia.

    Termasuk menggosok gigi setelah makan siang juga diterapkan meski belum bisa maksimal karena membiasakan anak anak untuj membawa pasta gigi ternyata tidak mudah. (*)

    sumber : tribun

    Latest Posts

    Don't Miss

    Stay in touch

    To be updated with all the latest news, offers and special announcements.